Kamis, Desember 25, 2008

S p i k u l a s i

Di bagian tutup bak belakang sebuah Truk Colt Diesel, ditulis sebuah kata, 'Spikulasi'. Maksudnya, si pemilik truk, kurang lebih benar, mau menulis kata 'Spekulasi'.

Spekulasi. Sebuah kata sederhana, singkat, padat, tapi banyak isi. Spekulasi, maksud yang dikandungnya, adalah kegiatan itung-itungan, untung-untungan yang dilakukan, dengan mengandung resiko. Bisa untung, bisa juga tidak untung. Dekat dengan kata itu, adalah 'gambling'.

Dalam situasi ekonomi sekarang ini, banyak orang kelimpungan karena situasi pasar saham yang tak bisa diprediksi. Malah turun menukik amat tajam. Akibatnya, banyak pemain, investor yang biasanya dapat untung tinggi, kini dalam sekejab wes-e-wes, e-wes bablas angine, bablas duite. Memang harus tahan diri, dan tahan uji.

1. Hari-hari belakangan, Dahlan Iskan, pemimpin Jawa Pos Group, banyak mengulas sisi kuat & sisi lemah para investor di bursa saham, valas, dan surat-surat berharga lainnya. Menarik. Membanggakan, namun kadang juga mem-prihatinkan. Bisa besar jadi kian amat besar, dalam waktu singkat. Bisa juga menukik, besar jadi kecil sekali dalam waktu singkat. Maka tak mengherankan jika kerap dipakai istilah 'senam jantung', 'ketar-ketir', dsb. Apalagi situasi terkini, saat krisis ekonomi global melanda.

2. Tahun yang lalu, ketika krisis ekonomi belum terjadi, ada seseorang di barat kota metropolitan, mengembangkan uangnya di pasar valas. Tak untung yang didapat, tapi uang enam-ratus-juta rupiah, bablas dalam sekejap. Hatinya jadi tak tahan. Wajahnya, lalu jadi selalu muka-murung. Dalam sekejap pula bablas nyawanya. Ditemukan oleh tetangganya, dia bunuh diri di rumah kediamannya.

3, Seorang kakak kelas, setelah lulus S1, merintis hidup di kota metropolitan. Dari jerih-keringatnya, bisa beli rumah, mobil dan celengan. Mau cepat berkembang. Ikut kawannya, main valas. Tak lama, rumah hilang. Mobil hilang. Celengan hilang. Habis tertelan di pasar saham. Sekarang jadi guru kursus, les bahasa. Kembali dari nol lagi.

4. Berita pagi ini 26 Des, meng-kagetkan juga. Thierry de la Villehuchet, seorang manajer investasi, yang menanamkan dana investasi di perusahaah milik Bernard Madoff ditemukan tewas di apartemennya(23/12). Dia bunuh diri. Di sekelilingnya ditemukan berserakan pil dan dia menyayat kedua tangannya. Dia kehilangan lebih dari 1 milyar dolar, karena menanamkan dana investasi di Perusahaan milik Madoff. Madoff adalah mantan pemimpin Bursa Nasdaq, yang telah men-tipu banyak nasabah, Kasusnya penipuannya, makin lama, makin ruwet.

Dalam hidup riel, ada hukum tegak lurus. Ada hukum grafis, bersifat linear.
Dalam hukum model grafik, dinamika perkembangan, kelihatan dari garis yang melengkung naik.
Jika perkembangan tetap, garis berupa garis lurus mendatar.
Demikian juga jika sesuatu menyusut, garis berindikasi melengkung turun. Sifatnya, dinamis.

Dalam hukum tegak lurus, orang bisa naik ke posisi puncak, dalam sekejap. Namun bisa juga turun, mlorot dalam posisi ter-bawah, juga dalam sekejap.

Bursa saham, valas, spikulasi memang menarik karena cepatnya. Namun, drastis pula kemungkinan merosotnya.

Manusia dihadapkan untuk memilih. Mau pakai hukum tegak-lurus, atau hukum grafis-linear.

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Sing wis, ya wis.

Syalom. Wilujeng wengi. Rahayu.

Wasalam:
-agt. agung pypm-

www.lelakuku.blogspot.com

Tidak ada komentar: