Kamis, Desember 25, 2008

Kedamaian, Oh, Kedamaian

Tiga hari lalu, trail-mot-nas menyusuri sebuah jalan kecil. Dekat pasar. Dekat kuburan. Di jalan kecil itu ada sebuah gerobak sampah sedang jalan. Ditarik oleh seseorang. Seorang tukang sampah. Sambil menarik gerobak sampah dia menyanyi, berdendang. Dendangnya, sebuah lagu. Bukan lagunya Siti Nurhalisa. Bukan pula lagu Bang Toyib. Bukan pula, Cocak rowo. Dan juga bukan pula lagunya Ungu-pasha.

Te t a p i Lagunya, begini:
Thing... Thing... Thing...
Thing...thing...thing.
Thing, thong, dong theng thing. 2x.

Theng, Theng. Theng.
Theng. Theng. Theng,
Theng. Theng Thing Theng.........
( Sambil jalan menarik gerobak ber-isi sampah-sampah ).

Not-nya:
mi,mi,mi
mi,mi,mi
mi,sol,do,re,mi

mi,mi,mi
mi,mi,mi
mi,sol,do,re,mi

Lagu apa ? K-suwun mbe-dhek, D-W-D-W.

Bagi seorang tukang sampah, atau pemulung, natal ber-arti...........
Tak tahu, apakah dia seorang katolik atau bukan. Namun yang jelas, dari dendangnya, kelihatan bahwa 'hatinya sedang riang'. Hati riang adalah hati yang merasa ringan. Sine Wente. Tanpa beban. Hati yang consolatif.

Mungkin, hati-nya riang, karena: Ada sampah. Berarti ada rejeki. Ada kertas, ada plastik, ada serpihan logam. Hal yang sederhana, tapi ber-arti, lalu bisa nyanyi.
Thing... Thing... Thing...
Thing...thing...thing.
Thing, thong, dong, theng, thing.

Orang berdendang. Orang bernyanyi, biasanya menunjukkan isi hati. Macam apa isi hati seseorang, ...., kelihatan dari dendang-nya.
Yang repot, jika orang sudah tak bisa ber-dendang lagi.
Juga apalagi tak bisa tersenyum.
Apalagi juga jika sudah tak bisa tertawa.
Adanya, njaprut-mbesengut terus. Muka muram, muka murung.

Lalu, harus bagaimana........ Tak tahu pasti. Tapi kata psikolog, begini:
Orang ber-hati ringan, biasanya karena bisa mensikapi keadaan. Dus, Bisa menerima keadaan. Bisa menerima situasi & kondisi, apa adanya. Riel. Tak di awang-awang. Juga jika keadaan itu pahit adanya. Dia bisa mengelola rasa-perasaannya. Bisa meng-olah-nya. Dus menjadi proses pengolahan batin. Untuk apa. Untuk mencapai hati yang damai. Damai dengan diri sendiri. Damai dengan keadaan. Damai dengan sesama.

Kebetulan:
Tema Natal th 2008 ini, berbunyi: ‘Hiduplah dalam perdamaian, dengan semua orang !.
Dus cocok, pengalaman si tukang sampah, dengan pengalaman Para Bapa Uskup Indonesia: Damai. Damai sejati. Bukan damai tapi gersang.

Bicara damai. Apa yang dimaksud dengan damai itu.
KWI, Konperensi Uskup Indonesi & PGI, tahun ini, dalam surat pesan natalnya, menekankan, Pentingnya kedamaian itu. Karena apa ? Karena berangkat dari realita.
Realitanya di masyarakat kita masih banyak terjadi:
1. perseteruan,
2. fitnah-fitnahan,
3. perselisihan,
4. padu.
5. Konflik.
6. Pukul-pukulan,
7. lempar-lemparan,
8. antem-anteman,
9. bunuh-bunuhan,
10. tawur-tawuran.
11. Cari untung sendiri,
12. cari menang sendiri,
13. The-rust-key D-W-D-W.

Gereja Indonesia, diwakili para uskup berpesan: Hentikanlah perseteruan itu. Karena hanya, rusak-rusakan jadinya. Barji-barbeh. Tiji-tibeh. Bubar-siji, bubar kabeh. Mati siji, mati kabeh.

Padahal, Pesan KS, jika dikalimatkan secara tegas, bernada imperative begini: ‘Hendaknya antar individu, antar kelompok saling-lah menghidupkan. Jangan saling mematikan’. Mengapa harus saling menghidupkan. Karena, karena semua, sama martabat dan derajatnya di hadapan Allah. Inilah cikal-bakal HAM. Hak Asazi Manusia.

Satu sama lain, sudah sepantasnya berdamai. Karena itulah yang dikehendaki oleh Sang Juru Damai. Namun sayang, kejahatan, kesewenang-wenangan, egoisme, penindasan, perkosaan, pemerasan, masih saja terjadi. Oleh karena itulah para uskup mengajak kita semua untuk kembali ke ajaran St. Paulus, 'Janganlah kamu kalah oleh kejahatan. Tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan"( Rm 12:21 ).

Pas di Genthawangi, ada seorang umat kerja di PA St Vincentius Jkt. Dia pulang mudik. Ikut misa natal. Dibawanya empat anak kecil-kecil. Dan ternyata, keempat anak itu, tak-ber-bapak & tak ber-ibu. Lalu diambil oleh Romo, di Panti Asuhan, diasuh, dididik. Agar jadi anak baik. Kejahatan jangan dibalas dengan kejahatan.

Belum lama, ketemu seorang relawan. Pernah Bantu di Pondok Si Boncel, Pejaten, Pasarminggu. PA yang dikelola oleh Suster-suster OP. Dia cerita, ada seorang anak. Anak itu sekarang dididik di Pondok Si-boncel. Siapa anak itu. Jebul, anak itu hasil dari perkosaan, pada peristiwa kerusuhan Mei '98. Ibunya, seorang gadis. Belum pernah apa-apa dalam hal sexual. Didumuk pria-pun belum. Karena diperkosa, jadi hamil. Kehamilannya tak digugurkannya. Janin yang lahir jadi bayi, dititipkannya di Pondok Si Boncel. Kejahatan, jangan dibalas dengan kejahatan.

Ada orang katolik Cilacap. Ketua RT. Ada tawuran antar kampung. Dia berusaha melerainya. E... malah. Dirinya kena gobang-klewang alias pedang. Lalu. Tewas dirinya. Dipanggil Tuhan. Kejahatan, jangan dibalas dengan kejahatan.

Kedamaain, oh kedamaian.
Kedamaian, oh kedamaian.
Semua cinta damai.......dst.
Sepenggal lirik, sebuah lagu Qasidah.

Kedamaian memang mahal harganya. Tapi tdk mustahil untuk meng-usahakannya.

Syalom. Wilujeng wengi. Rahayu-rahayu-rahayu.

Wasalam:
-agt agung pypm-

www.lelakuku.blogspot.com

NB:
Disarikan dr homili malam Natal.
Ats permintaan beberapa rekan.

Tidak ada komentar: