Senin, Oktober 20, 2008

Suster Mikael Pendamping Sepakbola

Ketika di Rowoseneng, ada seorang suster bernama MKL. Dia mengambil retret 1 bulan penuh, dalam rangka memperingati hidup ke-suster-an-nya yang ke 50 tahun. Hebat, menjalani hidup sebagai biarawati, sudah 50 tahun, tanpa henti. Penuh dinamika, katanya. Pasang-surut, penuh perjuangan namun tetap selalu bisa bersyukur. Terakhir dia bertugas di Kota Lasem. Sebuah kota perbatasan antara Jawa-Tengah dengan Jawa Timur, yang terkenal dengan Batik-Lasem-nya.

Di kota itu, dia berkegiatan di bidang kesehatan. Di sela-sela tugas pokok-nya, pelayanan pastoral, pendampingan umat juga dilakoninya. Maka berbagai macam umat juga dia kenal. Beberapa yang punya masalah juga mohon bantuan padanya. Salah satunya adalah Tante Muria--sebut saja demikian--. Tante Muria, seorang istri juragan Batik Lasem.

Apa kaitannya, Sr. MKL dengan Tante Muria, dan Sepakbola. Yang jelas dalam jangka waktu yang cukup lama, Suster MKL selalu hatinya 'dheg-dhegan' jika di televisi tertayang pengumuman akan ada siaran langsung Liga Sepakbola. Entah Liga Inggris, entah Liga Itali, entah liga-liga yang lainnya. Hati dheg-dheg-an, gelisah-resah, terjadi karena, jika sebuah pertandingan sebakpola selesai disiarkan, tak lama kemudian dia selalu dapat tilpon. Yang menelpon tak lain Tante Muria. Begitu tilpon diangkat, yang terdengar adalah suara tangisan, disertai ratapan, "Suster, kali ini kalah lagi........ 25 juta. Disertai nada sesengguk-an, 'Gimana suster, suami saya, makin parah........!'. Hampir bisa dipastikan, hampir tiap kali ada siaran sepakbola Liga, tilpon Suster MKL, selalul berdering. Isinya sama, 'Suster kali ini.... kalah lagi. Suster kali ini kalah lagi......". Di pembicaraan tilpon, yang diungkapkan oleh Tante Muria adalah perilaku Suaminya. Suami Tante muria senang sepak bola. Tak soal. Yang jadi soal adalah, jika nonton siaran sepakbola dia selalu pasang taruhan dengan kawan-kawannya. Jadi Si suami adalah seorang petaruh judi sepakbola. Hal itu dilakukan dari rumah, sambil nonton TV yang nyiarkan sepakbola, dia kontak dengan kawan-kawannya via telpon, pasang taruhan. Sekali dua kali menang. Tetapi kerap kali kalah. Taruhannya mula-mula kecil-kecilan. Lama-lama meningkat ke taruhan duit besar. 5 juta, kemudian, 10 juta, 15 juta. Terus-terus-terus. Angka terakhir yang dilaporkan dan ditangiskan ke Suster Mkl adalah ratusan juta. 'Suster kali ini suami saya kalah lagi, 100 juta. Aduuuuh Suster...... Padahal itu uang p e r u s a h a a n', ratapan Tante Muria pada suatu malam, usai siaran Liga Inggris.

Ya. Suami Tante Muria memang pecandu judi sepakbola. Urusan istri, urusan uang perusahaan, sudah tak dipikir-panjangkannya. Obsesinya, kali ini taruhan pasti menang...... Sudah berbagai usaha dilakukan Tante Muria, agar suaminya bisa lepas dari kecanduan judi sepakbola ini. Pernah pula ia datang, tak hanya sekali, melainkan ber-ulangkali, ke Pastor Parokinya. Tiap kali konsultasi dengan Pastor paroki, intensinya adalah 'Bagaimana agar suaminya bisa lepas dari kebiasaan judi itu.'

Pastor parokipun juga masih manusia, suatu saat --mungkin karena kesal, atau saking mumetnya-- Pastor paroki pernah memberi statement keras kepada Tante Muria, 'Bagaimana kalau suamimu itu mati saja !. Berani ndak ibu me-matikan suamimu....????' Tante Muria mendengarkan tentament dari Pastor Paroki, lalu nangis meraung-raung, 'Jangan, jangan pastor. Jangan dia mati. Yang mati saya saja.....!" Saking tak kuatnya, Tante Muria pernah minum APC-plus 30 biji sekaligus. Namun Tuhan masih berkehendak lain. Ia masih hidup. Tak mati-mati. Pernah pula dia tertekan batinnya, lalu 7-hari-7malam di kamar terus. Apa yang dilakukan....?! Main Game. Ya main Game. PS-2. Terus-menerus. Terus menerus. Agar lupa pada si suami, yang senang taruhan sepakbola dan tak mari-mari itu. Yang masih baik adalah, setiap kali dan setiap kali, Tante Muria selalu kontak, tilpon via HP pada Suster MKL. Sehari bisa sampai 7 kali tilpon. Tidak bertilponria. Melainkan bertilpon-nestapa. Nestapa akan perilaku suaminya yang mendem taruhan sepakbola.

Meski harus ketar-ketir, banyak keluarkan energi, melu mumet, Suster MKL tetap mendengarkan keluh-kesah dan apapun yang diutarakan Tante Muria. Inilah kesetiaan kepastoralan Suster MKL terhadap umat Tuhan. Dan yang jelas, setiap kali ada siaran sepakbola di TV, --biasanya malam dini hari-- Suster MKL-pun berjaga buka mata, tidak tidur, bersiap diri mendengar deringan tilpon dengan suara, 'Suster kali ini..... kalah lagi......suster.....!' Jadi Suster MKL akhirnya menjadi p-e-n-d-a-m-p-i-n-g sepakbola.

Suatu saat yang paling pahit akhirnya sungguh terjadi, Tante Muria suatu hari ditagih Bank. Uang tagihan sebesar 2 Milyard. Ternyata suaminya hutang bank. Uangnya untuk taruhan judi sepakbola. Habis, ludhes, apes.... Akhirnya hutang itupun jatuh tempo. Tak bisa bayar. Aset-aset Perusahaan Batik Lasem-nya disita Bank. Ban-krut-lah usaha batik Tante Muria, gara-gara sepakbola.

Atas perilaku suaminya, Tante Muria berdoa juga terus tanpa henti. Mendampingi suaminya dengan jatuh-bangun, stress, bingung, cari kompensasi positif, dsb-dsb.
Mei 2008, suami Tante Muria genap 1 tahun dipanggil Tuhan. Dia meninggal di tengah perjalanan ke Rumah Sakit Surabaya, karena stroke. Tante Muria menyerahkan seluruh dinamika hidupnya, dengan setiap kali datang ke Pertapaan Rowoseneng. Di sana dia berdoa, ikut ber-ibadat bersama para Rahib. Membaca buku Rohani. Dan menyapa orang-orang yang berziarah rohani di Biara Rowoseneng. Utang Bank yang 2 milyar, sudah bisa ditutup oleh anaknya yang meneruskan usaha Batik Lasemnya.


Orang bijak bilang, 'Kesucian orang tidak dilihat dari hasil-nya,
melainkan dari usahanya, per-juangan-nya, jatuh-bangun-nya, memanggul salib.


Syalom. Wilujeng ndalu. Rahayu-rahayu-rahayu.
Wasalam:
-agt agung pypm-
www.lelakuku.blogspot.com
www.biblestudiescommunity.blogspot.com






Tidak ada komentar: