Selasa, Mei 26, 2009

Siti(a)Isah

Having Faith email backgroundSebagiamana terceritakan dalam kisah 'Jagading Lelembut' kemarin, Siti, gadis dusun yang lugu, dirinya kerasukan 'roh'. Sejauh Roh itu mengaku, namanya 'Isa'. Dua realitas yang berbeda, satu dari dunia fana. Satunya, dari dunia baka. Jika dua nama itu di-'gathuk'-kan, menjadi sebuah nama yang indah sebenarnya, yakni 'Siti -A- isa'.

Fenomena kerasukan 'Siti-A-isa', memunculkan rasa prihatin beberapa person. Salah satu person orang adalah seorang Ibu, yang pernah terlibat dalam usaha per-gudhangan, di tempat Siti pernah mengalami kesurupan. Keprihatinannya, dengan peristiwa itu, bagaimana nanti kelangsungan usaha pergudhangan. Bagaimana supaya tidak terjadi gangguan oleh roh-roh lagi. Karena jika itu terus berulang terjadi, bisa-bisa usaha jadi bangkrut. Bagaimana dengan nasib pelanggan, nasib karyawan, dsb-dsb. Image perusahaan, jadi taruhan.

Maka pergilah Si Ibu yang punya perhatian itu, ke pihak-pihak yang bisa diajak omong. Temanya sederhana, 'bagaimana langkah-baik selanjutnya ?'.

Peristiwa 'Siti-a-Isa' berkaitan dengan beberapa hal.
Hal pertama, tempat di mana, terjadi peristiwa kesurupan.
Hal kedua, orang yang kesurupan.
Hal ketiga, roh yang me-surup-i.
Maka penanganan, musti melingkupi, menyangkut, mengarah ke ketiga-tiganya.

Tempat,
Tempat usaha, agar dibuat senyaman mungkin untuk ber-usaha, bekerja, ber-aktif-itas, menjalankan produktivitas. Dengan harapan, orang di situ krasan bekerja. Kebersihan, kesehatan, sirkulasi udara, tata-ruang, termasuk dalam hal ini.
Tak hanya kondisi tempat dalam arti fisik, yang dibenahi. Yang lebih penting pula, adalah susana-kerja. Inilah kerohanian kerja. Suasana kerja, dibuat yang meng-krasankan. Itu bisa terjadi dengan dibangunnya semangat human. Semangat human, adalah semangat kemanusiaan. Artinya, ada penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Pendeknya, penghargaan atas sesama manusia. Di situ ada, keseriusan kerja, kejujuran, saling kasih-mengasihi, perlakuan yang adil, dsb-dsb. Tak ada manipulasi, tak ada perseteruan, persekongkolan, perselingkuhan, intrik, benci, iri, dan i, i, i yang lain.

Yang kesurupan.
Roh datang, menghampiri dan lalu meminjam raga seseorang, karena pas, cocok. Ibarat radio, frekwensinya cocok. Yang jadi masalah, yang punya raga itu yang lalu merasa diboncengi. Jadi beban yang amat berat. Jiwa si pemilik raga, jadi tak punya daya. Ada ruang, yang rasa-rasanya diserobot. Siti, ketika ditanya saat kesurupan, 'Apa yang dirasakan ?'. Jawabnya, 'Merasa sadar, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Serasa tertindih sesuatu yang amat berat, lalu tak bisa berkutik sedikitpun'.
Maka, bagi si pemilik raga, yang penting adalah mengkonstruksi diri agar kuat. Agar pribadinya kokoh, sehingga tak ada ruang kosong dalam dirinya. Dengan demikian tak ada kesempatan bagi roh-roh nunut masuk dalam ruang pribadi yang kosong itu.
Penguatan pribadi, bisa ditempuh dengan kesehatan jasmani & rohani. Kesehatan fisik mendapat porsi. Kesehatan mental juga mesti mendapat porsi secukupnya. Maka penting kegiatan rohani. Doa, puasa, matiraga, bacaan rohani, iqtifar, hidup soleh, dsb. Tak boleh dilupakan pula, doa yang sungguh serius. Doa yang serius adalah yang dengan hati. Tak sekedar ucapan kata, ucapan mantra. Tak sekedar baca rangkaian huruf doa, ucapkan bismilah, nyebut, hapal rapalan. Tak sekedar melaksanakan rutinitas belaka. Doa serius, musti sampai cakap-cakap. Bercakap-cakap dengan Tuhan. Apa yang dimohon, apa yang mau disampaikan diucapkan. Komunikasi doa tak hanya di awang-awang. Jika perlu diucapkan dengan mulut. Ditulis dengan tangan. Contoh doa macam ini, adalah doa 'Kanjeng Rama', alias 'Bapa kami'. Sebuah rumusan doa yang amat riil. Malah juga otentik, asli dari Yesus.

  1. "Rama kawula ing swarga.
  2. Asma Dalem kaluhurna.
  3. Kraton Dalem mugi rawuha.
  4. Karsa Dalem kalampahana, wonten ing donya kados ing swarga.
  5. Kawula nyuwun rejeki kangge sapunika.
  6. Sakathing lepat nyuwun pangapunten Dalem, kados dene anggen kawula ugi ngapunten dhateng sesami.
  7. Kawula nyuwun tinebihna saking panggodha,( saking roh-roh ),
  8. Saha linuwarna saking piawon. Amin."

Selamat berdoa, model 'Bapa-kami'.

Syalom. Wilujeng wengi. Rahayu.
Wasalam:
-agt agung pypm-

Tidak ada komentar: