Minggu, Juni 14, 2009

dhor

Di sebuah koran terbitan Yogyakarta, yang peredarannya sampai daerah banyumas, ada artikel berjudul 'Jambret ngeyel, di-'dhor', modar'.

Modar, adalah sebuah kata. Kata itu merupakan rangkaian huruf. Huruf adalah simbol-simbol yang disepakati antar manusia untuk berkomunikasi. Sebagai simbol, sebuah kata meng-ungkapkan fakta di belakangnya. Fakta yang di ungkapkan oleh kata 'modar', adalah realita. Yakni realita kematian.

Isi dari peristiwa kematian adalah sama, yakni terlepasnya jiwa dengan raga. Berangkat dari intensi, kata yang dipakai bisa berbeda-beda. Ada kata, mati. Ada pula kata yang lain: meninggal, wafat, mangkat, tewas, dipanggil Tuhan.

Kecuali, dipakai sebagai pengungkap fakta, kata-kata yang berkaitan dengan peristiwa kematian, kerap pula dipakai sebagai kata 'cercaan', 'umpatan', 'mujek-mujekke'. Tentu saja, konotasi-nya negatif. Dalam hidup harian, kerap terdengar frase 'mati luuu.....!', 'modar ! Kapokmu kapan !'. Juga, kadang kata itu dipakai sebagai ungkapan 'kekesalan'. Orang kesal terhadap sebuah peristiwa yang terjadi di hadapannya, maka lalu ber-ujar 'modarrrrrrr...!'.

Seorang remaja, naik motor kencang sekali. Motor baru dibeli satu bulan yang lalu. Jalan yang dilalui memang memungkinkan untuk itu. Membujur tepian Sungai Serayu, antara Banyumas - Patikraja. Sayang jalan yang lurus halus itu tak lebar. Sempit adanya. Si remaja rumahnya di kawasan Kaliori. Cepat, atau malah bisa dikatakan ngebut siang itu. Menyalib kendaraan-kendaraan yang jalan langsam. Mungkin remaja Kaliori tak perhatikan etika berkendaraan. Di sebuah jalan sempit tetap nekat cepat, menyalib kendaraan roda empat. Pas di tikungan, muncul sebuah truk pasir kosongan. Tak ayal, perhitungan yang tak tepat, menjadikan si remaja men-tabrak truk kosongan tsb. Ini gara-gara si remaja mangan dalan, alias melintasi jalan di bagian kanan yang sebenarnya hak pemakai jalan dari arah berlawanan. Padahal, sudah ada garis putih, sebagai penuntun, para pemakai jalan dari dua arah. Agar tak saling tabrak. Braaaakkkk !...... Si remaja jatuh terpental di jalan aspal. Truk yang tak bersalah, agak ragu, mau berhenti. Namun akhirnya meninggalkan si korban. Barangkali, takut nanti disalahkan. Padahal, posisinya ada dalam jalan aturan kebenaran.

Akhirnya, si remaja tewas seketika. Si truk pasir, juga tak berhenti, entah lalu ke mana perginya. Beberapa orang sempat melihat dan menyaksikan peristiwa itu secara tak sengaja. Malah ketika si remaja bermotor cepat tengah meliuk-liuk menyalib kendaraan lain, ada orang yang ber-ujar, 'Modar...., modar...., kiye bocah......!'.

Lalu yang berwajib, petugas datang meng-urus peristiwa tabrakan yang memakan korban. Dicari dan ditanyai saksi-saksi. Siapa yang melihat dan tahu truk yang sudah pergi. Ketika disodorkan pertanyaan-pertanyaan, orang yang melihat, dan sebenarnya bisa dijadikan saksi, mengatakan, 'Tak tahu'. Jawabannya 'tak tahu', padahal sebenarnya tahu. Alasannya, agar yang tak salah biarlah selamat. Maklum juga pengemudi, orang asli tak jauh dari te-ka-pe. Kasihan, jika harus menanggung semuanya itu. Apalagi dia tak salah. Dus, masa tak peduli dengan dengan orang yang nekat, melanggar aturan dengan tanpa hati. Si penekat, tak dapat simpati, namun malah dipuja-pujakan agar lekas mati.

Taat aturan, me-muncul-kan simpati. Tak taat aturan, memunculkan.......

Syalom. Wilujeng ndalu. Rahayu.
Wasalam:
-agt agung pypm-

Tidak ada komentar: