Sabtu, Maret 20, 2010

Introspeksi

Ada orang yang berusaha meluruskan kiblat-kiblat doa. Kiblat, atau arah doa sekarang, banyak yang tak lurus. Efeknya, .... apakah jika tak lurus, orang yang doa tak masuk sorga.....? Tak tahu. Itu urusan pribadi orang.
Tiap agama, memang punya kiblat. Punya arah. Tiap orang-beragama, tentunya, juga punya kiblat. Kiblat kita ke mana ? Sebagai orang katolik.

Yesus, tiap kali datang ke Bait Allah. Dia di sana berdoa, dengarkan firman, dan habis itu ber-aktif-itas, mengajar. Dari sini kelihatan bahwa bagi Yesus, bait allah punya peran penting. Bait allah, semacam pusat, sentral, malah semacam kiblat dari kehidupannya. Mengapa demikian. Apa yang ada di Bait Allah.

Bait Allah, tempat berjumpa dengan Allah: perubahan orientasi.
Bait allah, punya peran penting, bahkan sentral, karena di sana dibacakan, dan lalu didengarkan sabda Allah. Di sana, dihaturkan persembahan korban. Di sana didaraskan doa-pujian dan doa-doa permohonan. Di Bait allah, umat menghadap, dan lalu berjumpa dengan Tuhan Allahnya. Kegiatan-kegiatan seperti ini disebut liturgi.
Salah satu pertemuan kita dengan Allah, adalah ketika firman dibacakan. Dan ketika kita mendengarkan. Mendengarkannya dengan sungguh-sungguh, serius. Tidak dengan 'nyambi' ber-SMS-ria. Ada beberapa warna sabda Tuhan, jika diperhatikan. Kadang-kadang sabda tuhan, ajaran Yesus, bersifat meneguhkan, mencerahkan. Namun kadang-kadang, ajaran Tuhan terasa sebagai mengingatkan. Atau malah mengkritik gaya hidup kita. Tak soal, itulah peran firman Tuhan, peran Kitab Suci.

Kisah, Tuhan Yesus berhadapan dengan wanita, yang kedapatan berzinah, yang di skenario oleh orang-orang parisi, juga ada warna tersendiri. Ada pesan spesifik di dalamnya. Ada ajakan dari cerita itu. Yang nampak terasa, adalah sikap menonjol orang farisi. Mereka mau mencobai Yesus. Mau mengetes sikapnya terhadap Hukum taurat. Namun ternyata, tak-tik mereka kalah cerdas dibanding Yesus. Orang farisi, menunjuk fakta dengan mengangkat kelemahan orang lain. Mereka, menganggap diri benar, dengan menunjuk kesalahan orang lain, dosa orang lain. Orang lain yang salah itu harus dihukum.

Dalam hal ini, sikap Yesus lain. Dia membalik pola pikir orang-orang parisi tadi, sehingga mereka mati kutu, malu sendiri. Sikap Yesus yang cerdas itu berupa, pola pikir demikian: perbaikan situasi tidak harus dengan mengangkat kesalahan orang. Perbaikan diri mesti pertama-tama dilakukan dengan melihat diri sendiri dulu. Istilahnya, INTROSPEKSI.

Kecerdasan Yesus, dan ajakan untuk introspeksi itu, kelihatan dari yang dia buat, di hadapan wanita zinah, dan di hadapan orang farisi. Ketika orang farisi mengadu, Yesus diam, lalu menulis di tanah. Dan sesudah saat hening, dia berkata: "barang siapa tidak punya dosa, silahkan melempari wanita ini untuk yang pertama kali.....!'. Reaksinya menakjubkan. Mereka pergi, satu-demi satu, tanpa komando. Inilah pernyataan Yesus yang amat cerdas. Ajak orang untuk introspeksi dulu, dalam memperbaiki kehidupan.

Jadi ada perubahan, dalam pernyataan Yesus. Tak menyalahkan orang, atau mendosa-dosakan orang, melainkan melihat diri dulu. Bukan agresi, tapi Intropeksi. Kecenderungan manusia, adalah agresi. Jadi agresif. Tuduhan tak pertama pada diri, melainkan cenderung cepat nunjuk orang lain. Ada pepatah, jika jari telunjukmu mengarah kepada seseorang, jari yang empat menunjuk dirimu sendiri. Pepatah ini, nampaknya ada benarnya.

Ada kisah menarik, ketika pembangunan kapel Wangon macet. Ketika rapat, ada seseorang yang ksatria berkata, 'kemacetan ini, yang menyebabkan pertama-tama adalah saya. Maka saya bersedia jika disalahkan. Saya mau bertanggung-jawab. Saya minta maaf'. Bukan orang lain yang dia salahkan. Ini suatu langkah maju, introspeksi.

Pesan alkitab yang bisa kita ambil, sekali lagi adalah, mari kita memperbaiki diri, perbaiki situasi, perbaiki hidup dengan orientasi model Yesus. Tak agresi, melainkan introspeksi. Tak pertama-tama menyalahkan orang lain, melainkan memperbaiki diri. Selamat ber-introspeksi.

Syalom. Wilujeng. Rahayu.
Wasalam: agt agung ypm

Tidak ada komentar: