Selasa, Januari 19, 2010

Berkawan dengan lelembut

Sebuah hari Senin, sekitar jam sembilanan, dua orang ibu mendatangi pastoran. Kesadaran diri sebagai orang beriman katolik, mendorongnya untuk ketemu dengan pastor paroki. Salah seorang diantaranya sedang menghadapi fenomena yang tak biasa. Tak biasanya berupa pengalaman aneh. Anak gadisnya yang berusia klas dua es-em-pe, belakangan kerap diikuti orang. Bukan sembarang orang, melainkan orang yang bisa nampak dalam sekejap, bisa juga lenyap dalam sekejap. Di sekolah, dia kerap diikuti. Di rumah nenek, ada mahkluk serupa tapi tak sama, juga mengikuti. Orang kita mengatakan itu mahkluk lelembut. Remaja es-em-pe itu kerap dijumpai, dan bisa melihat mahkluk halus. 


Ibunya datang ke pastoran, untuk bisa dibantu memecahkan persoalan. Bagi dia, persoalannya, kawatir, jika anaknya berkelanjutan sering ketemu dengan makhluk halus, jangan-jangan nanti bisa omong sendiri. Atau malah lebih kerap 'ngguyu' sendiri. 


1. Peng-udud '76 tak punya kemampuan bisa lihat mahkluk halus, alias lelembut. Jika beri pendapat, atau saran, nanti malah seperti orang 'ngecap'. Bisanya, hanya ajak si Ibu, untuk melihat sejarah si anak, bagaimana asal-muasalnya bisa sampai kerap dilihati, oleh lelembut.
2. Dari proses buka lembaran sejarah, diceritakan oleh si Ibu, bahwa ketika anaknya masih usia balita, dan masih selalu digendhong, suatu malam, sekitar jam 03.00, mengalami sakit panas. Untuk penyembuhannya, dibawalah malam itu si balita ke Ibu bidan, yang adalah tetangganya. Untuk ke sana, diajaknya sebagai teman, anaknya yang pertama, serta buliknya. Menjelang sampai rumah bu Bidan, tiba-tiba di jalan munculah sesosok mahkluk, rambut panjang, pakaian putih, namun wajah hitam legam. Karena berhadapan dengan mahkluk asing & misterius, bertanyalah si Ibu, pada si Bulik, itu manusia atau bukan. Tetapi ketika pertanyaan itu dilontarkan, si Bulik, malah lari tunggang langgang pulang. 
3. Saat genting itu, jadi kaget & ketakutan pulalah si Ibu. Namun begitu mahkluk asing itu menghilang, lenyap pulalah sakit panas si anak yang tengah digendhongnya. Sampai kini, anak balita yang sekarang sudah remaja es-em-pe ini, tak pernah sakit lagi. Malah jadi anak pemberani. Hanya lalu jadi pula misteri, karena kerap lelembut manampaki diri. 
4. Penasaran, tetap penasaran, si Ibu tak rela anaknya berkelanjutan. Maka pergi ke pastoran. Karena pihak pastoran tak bisa beri penjelasan, maka diajaklah ke dua ibu itu ke orang yang pernah punya pengalaman. 
5. Di Purwokerto, ada seorang Ibu. Emanuel namanya. Dalam hidupnya, dia kerap melihat mahkluk yang aneh. Bisa nampak dalam sekejap, bisa lenyap dalam sekejap. Ketika orang-orang lain tak bisa melihatnya, dia bisa melihatnya. Mendengar keluhan Ibu si  remaja es-em-pe, Ibu Emanuel berujar, 'Itu malah disyukuri saja buuuu...........! Tak usah takut. Saya sekarang sedikitpun tak takut karena percaya pada Yesus-Kristus. Para mahkluk halus, biasanya saya ajak omong, lalu saya doakan. Mereka lalu pergi.' Mendengar jawaban itu, si Ibu remaja es-em-pe menjadi terperangah. 


Iman akan Yesus, memang memberanikan. Tak hanya itu, juga meyakinkan.

Para lelembut-pun patuh.


Syalom. Wilujeng wengi. Rahayu.
Wasalam:
-agt agung pypm-

Tidak ada komentar: