Minggu, Oktober 10, 2010

Sudah Sembuh


Sebuah sore, saya, peng-udud ’76 naik bis. Dari Semarang menuju Tegal. Bis penuh, banyak penumpang berdiri. Seorang wanita cantik juga berdiri. Tak tawari duduk. Gentian. Dan dia mau. Lalu Duduk, methekes.   Orang diberi kebaikan biasanya beri ucapan terimakasih. Tapi, ketika itu, sepuluh menit, tak ada kata-kata itu. Setengah jam, tak ada kalimat itu. Sejam kemudian, orang itu tidak mengucapkan terimakasih juga.  Agak heran, di hari gini, masih ada orang dewasa yang tidak bisa berterimakasih. Padahal, cantik..., lagi. Tak klop rasanya, antara indah wajah, dengan indah-hati.

Empat hari lalu,  pickup Chevrolet melaju melewati perempatan Tanjung, sehabis angkut music calung, untuk latihan. Hujan deras. Di Tanjung, delapan remaja nyetop. Nunut. Mereka bilang mau ke perempatan Srimaya. Nampaknya habis pertandingan sepakbola. Sesampai di perempatan srimaya, mereka berlompatan turun. Meskipun hujan amat deras, salah seorang menghampiri jendela, bilang ‘terimakasih’. Remaja  itu, masih bisa berterimakasih.

Ada macam ragam orang. Ada yang bisa berterimakasih. Ada yang kurang peka, atau malah tak tahu berterimakasih.  Dalam ranah Ilmu psikologi, Indikator seseorang  bisa dikatakan dewasa, adalah jika mampu berterimakasih.  Jika sampai tingkat itu, yang namanya pendidikan nilai, ada titik keberhasilannya. Maka bagus sekali, ada anak-anak yang sejak balita, sudah bisa berterimakasih. Beberapa anak sekolah-minggu kadang-kadang terdengar bilang ‘terimakasih’, meskipun tak disuruh orangtuanya.

Apakah berterimakasih itu. Orang berterimakasih, mengungkap tiga hal perkara:
Pertama, Dia sadar akan situasi dirinya.
Kedua, Dia meng-akui, bahwa orang lain telah membantu dirinya.
Ketiga, Dia men-syukuri, atas kebaikan orang lain itu.

Seseorang situasinya  tidak nyaman. Mungkin kekurangan, atau ada masalah, Dengan bantuan orang lain, situasi tak nyaman itu diubah, jadi lebih kondusif, lebih nyaman.  Kehadiran orang lain, dirasakannya sungguh membantu, merubah keadaan. Orang lain lalu dirasakan sebagai rahmat. Bukan ancaman. Maka orang lalu bisa syukur. Terimakasih, mengandung arti menghargai kehadiran orang lain. Dan kehadiran itu membawa kebaikan.

Kitab-Suci.
Yesus menyembuhkan  sepuluh orang kusta. Lalu mereka pergi kepada imam-imam di bait-suci. Ternyata, hanya ada satu yang kembali, untuk mengucapkan terimakasih. Apa-apaan ini. Apakah Yesus ingin diakui sebagai orang berjasa, penyembuh hebat. Bukan itu perkaranya.

Injil Lukas, mau menampilkan bahwa yang penting sebagai warta-gembira, adalah orang merasa dipulihkan, disembuhkan.  Orang yang semula ‘diasingkan’, diterimakan kembali dalam komunitasnya. Lalu bisa pasrah kepada Allah.

Orang sakit kusta, ketika itu dipandang kena kutuk, maka harus diasingkan. Inilah yang amat menyakitkan. Dengan ditahirkan oleh Yesus, perasaan terkutuk hilang. Orang merasa dibebaskan. Dan yang lebih penting adalah, orang jadi hidup wajar kembali, seperti saudaranya yang lain.
Perasaan dipulihkan jadi hidup wajar ini, memunculkan kesadaran bahwa Allah itu mengasihi manusia. Dan lalu akhirnya bisa mensyukuri karya Allah. Berterimakasih pada-Nya. Penyembuhan hanyalah jalan, menuju orang hadir pada Allah. Orang sampai pada perasaan bahwa Allah yang mendampingi umatnya, inilah yang jadi tekanan.

Dikatakan, dalam KS, imanlah yang menyelamatkan, maksudnya kepasrahan pada Allah memampukan orang menghadapi perkara-perkara dunia. Dengan setia, juga ketika sakit.

Mari kita membangun semangat terimakasih. Semangat bisa bersyukur, atas kebaikan sesama, atas kebaikan orang.  Baik jika nanti malam, mau tidur, dihitung tiga kebaikan orang lain yang kita terima hari ini. Atau sebaliknya. Tiga kebaikan apa yang sudah kubuat untuk sesama.

Syalom. Wilujeng. Rahayu.
Wasalam:
-agt agung ypm-

Tidak ada komentar: