Sabtu, Maret 06, 2010

Agama Yang Benar

HIDUP BENAR - krn - AGAMA BENAR

    Seorang anak klas IV SD, pulang sekolah. Mengadu pada bapaknya: 'Pak kok jare bu-guru, agama sing paling bener kiye, agamane bu guru !. Terus agamane dhewek, apa ora bener ?!" Agama sing bener kiye, sing kaya ngapa ?.
    Dua orang gadis SD, memfotokopi sebuah buku pelajaran agama. Dalam buku itu, diuraikan bahwa Yesus Kristus, atau Nabi Isa itu matinya tidak disalib. Yang disalib adalah orang lain. Bagaimana ini.

 
Kekatolikan
    1. Bicara iman katolik, adalah juga bicara agama katolik. Agama kita, adalah katolik. Iman katolik, sumbernya adalah para rasul. Iman kita, mendasarkan diri dari iman para rasul. Maka, syahadat kitapun, lalu disebut syahadat rasuli. Biasa dikenal, Syahadat para rasul. Setiap kali, habis homili, syahadat para rasul itu, kita ucapkan lagi. Menjadi kalimat-syahadat kita.
  2. Jadi, agama katolik, adalah agama yang benar. Benar dalam arti berdasar. Dasarnya, dari saksi-saksi. Saksi itu, adalah para rasul. Para rasul menyaksikan, siapa itu Yesus Kristus. Dia yang pernah hidup. Dia pernah sengsara, disalib. Lalu wafat. Namun bangkit lagi. Jadi Yesus, sungguh mati, disalib.
  3.  Cerita bahwa yang disalib bukan Yesus, adalah dongeng. Dongeng itu muncul sekitar tahun 500 masehi. Dengan begitu mana yang harus dipercaya,
kesaksian atau dongeng. Dalam dunia pengadilan, untuk mencari kebenaran, selalu ditampilkan saksi-saksi. Orang yang menjadi saksi, adalah orang yang menyaksikan. Dengan mata kepala sendiri. Seorang saksi di pengadilan, bukanlah tukang dongeng.   
 

Kitab Suci.
1. Kitab Suci hari ini, bicara ttg kritik Yesus kpd orang-farisi & imam kepala. Praktek mereka dikritik Yesus karena, sikap yang over. Mereka merasa    diri, persembahan mereka lebih benar daripada persembahan orang lain. Persembahan yang lengkap, apik, tak cukup bagi Yesus, jika hidup harian, masih membebani sesama. Masih membebani orang lain. Cuek, tak peduli. Oleh karena itulah Yesus menuntut sikap tobat. Jika tak ada pertobatan, kemurahan Allah, akan diberikan pada siapa saja, yang mau bertobat. Mau memperbaiki hidup. Tak peduli dari kalangan apa mereka.
2. Karena itulah, dalam bagian lain injil, dikatakan, batu yang dibuang tukang bangunan, akan menjadi batu sendi. Apa yang semula dianggap tak berharga, akan menjadi amat bermakna, jika ada perubahan. Pertobatan, perbaikan.
3. Pertobatan masih diberi kesempatan pada kita. Gambaran pohon yang tak berbuah, bermakna demikian. Pohon itu dimohon oleh orang, agar tak ditebang dulu,  untuk dicoba beberapa tahun lagi. Siapa tahu masih bisa berbuah, jika dirawat. 

 
Buah Pertobatan
    Para murid, para rasul, juga St Paulus, adalah orang-orang yang menggunakan kesempatan itu. Mereka bertobat. Maka lalu berbuah. Para rasul, lewat kesaksiannya, menjadikan tumbuhnya umat kristen di seluruh dunia. Isi kesaksiannya, adalah Yesus menyelamatkan manusia dari belenggu dosa, dengan sengsara, wafat, disalib. Dan lalu bangkit. Itu dilakukan, karena satu alasan, yakni, Allah mengasihi manusia.


Maka iman yang benar, adalah iman yang berbuah dalam sikap kasih. Agama yang benar, adalah agama yang membuahkan tindakan kasih, pada pemeluknya. 
St Yohanes, dalam injilnya, menuliskan siapa Allah itu. Allah, adalah kasih....

Selamat berbuat kasih. 
Syalom. Wilujeng wengi. Rahayu-rahayu.
agung pralebda

Kamis, Maret 04, 2010

hot satu

  
Di era tahun tujuhpuluhan, di koran-koran banyak terdapat iklan tentang film-film, yang akan diputar di bioskop. Agar menarik perhatian, kerap di bagian iklan disertai keterangan singkat begini, 'Khusus Dewasa'. 
Atau begini, 'Hot !'. 
Ada juga yang gini, 'Full hot'. 
Juga ada yang gini, 'Hot 100%'. 
Ada juga yang tak kalah seru, tertulis, begini, 'Sex !'.
Tulisan-tulisan itu ditulis model miring, lalu masih dilingkari. Maksudnya, tentu saja agar pembaca tertarik, lalu menonton film itu. Dan lalu, untung yang didapat insan film jadi banyak.

Manusia yang hidup di atas tanah, di bawah langit, siapapun, dimanapun, kehadirannya di dunia, disertai oleh Tuhan dengan yang namanya sexualitas, dan lalu juga sex. Dengan itu, manusia bisa meneruskan generasinya, terus-menerus. Sehingga, tak musnah.  Sifat kedua hal itu adalah melekat, hakiki adanya. Peran dan geraknya unik, khas, yakni menyertai, menggerakkan, mempengaruhi, menghidupkan, menggairahkan. Namun ada sisi negatif pula yang tak terelakkan, yaitu menggelisahkan. 

Proses sexualitas, proses sex, berjalan terus menerus, sesuai dengan hukum alamnya. Menghasilkan sebuah daya manusiawi. Daya naluriah itu, diistilahkan dengan libido, instink-sexual, nafsu-sex, atau nafsu birahi. Daya itu bergerak terus, mendorong manusia untuk menyalurkannya, dalam bentuk kegiatan sexual. Penyaluran yang tepat & sehat, serta kodratiah, berupa hubungan sexual, antara pria dengan wanita, atau disebut 'coitus'.

Efek sosial.
Karena tiap orang mesti mempunyai, serta dan lalu menyenangi hal-hal seputar sex & sexualitas, dunia bisnis kemudian memakainya sebagai alat daya tarik. Sebagai media promosi. Akhirnya urusan sexual-pun lalu jadi barang komoditi. Bahkan komoditi ekonomi. 

Efek spiritual.
Para rohaniwan-rohaniwati, penghayat hidup selibat,  tak lepas pula dengan urusan sexualitas & sex. Daya sexual juga berjalan terus tiada henti. Maka kaum penghayat selibatpun juga selalu tergerakkan oleh daya naluriah ini. Masalahnya, bagaimana membuat, agar daya itu, tak menjadi negatif, tak menyandungkan orang, jatuh dalam skandalum, skandal sexual. Di sini rasanya, daya sex-pun perlu untuk di-management. Diatur, dikelola, sehingga malah bisa jadi hal positif-produktif. 

Faktual.
Seorang sopir mobil, sudah puluhan tahun mengabdi di sebuah biara, tempat para rohaniwan hidup selibat. Dia jadi tahu, dan lalu hapal dengan perilaku orang-orang selibater. Dengan karyawan lain, dia beri petuah, 'Kita harus tahu, jika boss kita, libidonya sedang naik. Emosinya biasanya tinggi, mudah marah tanpa alasan. Sebaiknya, kita bisa 'ngemong''.

Alm. Prof Purwowidiono, mempesankan pada murid-muridnya, dorongan sexual selalu ada. Kerap tak sadar banyak sekali energi & pikiran kita terfokus pada urusan-urusan ini. Daya sex memang harus disalurkan. Bagi rohaniwan daya itu disalurkan, bukan berbentuk hubungan sexual, melainkan  dalam bentuk sublimasi. Orientasi pikiran, diarahkan pada aktivitas yang positif, yang menghibur, yang menyenangkan, meng-asyik-kan. Sokur produktif.  Hoby, kegemaran, kesenangan bisa jadi jalan keluarnya: tulis-menulis, musik, olah-raga, beladiri, seni, tehnik, liburan rutin, cuti tahunan, hewan-piaraan, tanaman-kegemaran, menyanyi, dsb. 

Seorang rohaniwan senior, pernah ber-ujar, 'Dadi romo, arep kreatif, rada aneh-aneh ora papa, ning siji sing ora entuk dilakoni, karo wong wadon.....!'

Selamat bersublimasi. 
Syalom. Wilujeng wengi. Rahayu.
Wasalam:
agung pralebda