Selasa, Juli 07, 2009

Sandalilang

Yang namanya manusia, banyak macam sifat & karakternya. Ini pula yang mewarnai warna tingkah-lakunya.
Ada yang pintar, mencari kesempatan dalam kesempitan.
Ada yang setiap kali memang bisa memanfaatkan kesempatan.
Ada pula yang sengaja mencuri kesempatan.

Suatu kali, peng-udud 76, dalam perjalanan naik bis. Transit di terminal Solo, Tirtonadi. Menunggu bis berikut, dengan duduk di kursi peron. Karena capek, tertidur. Ketika tidur, sepatu sandal Neckerman, ditaruh di lantai. Kaki dipancatkan di dudukan kaki, bagian bawah kursi. Pendek kata, kaki tak dimasukkan pada bagian sepatu sandal.

Ketika mulai duduk, sepatu lengkap, ada dua-duanya. Ketika terbangun dari tidur terkantuk-kantuk, hati kaget, karena sepatu sudah tiada. Diperiksa kanan-kiri, tetap tiada. Kesimpulan ditarik, sepatu dicuri orang, dicolong maling. Pencuri mengambil sepatu, ketika pas ngantuk-ngantuke. Dus yang punya, tak tahu.

Tak berapa lama, bis berikut datang. Berangkat dari Solo, menuju Yogya. Berhubung sepatu ilang, maka, apa di kata, naik bus dengan kaki 'nyeker'. Alias tanpa alas kaki. Atas berbaju resmi. Pakai celana 'pantholan', namun kaki, tetap tak bersepatu. Hati, mangkel. Rasa, anyel. Barang tak seberapa, tapi jadi suasana kacau.

Istri Martinus, pemilik kios koran depan Rs Elizabet terdahulu, pernah dapat uang limapuluhribuan palsu. Uang ber-asal dari seorang pria yang beli sebungkus rokok. Putaran uang hari itu jadi kacau, gara-gara uang palsu yang tak laku. Mau kulakan, jadi dananya tak cukup. Kacaulah perputaran ekonomi usaha kios rokok hari itu.

Seorang petani di kawasan Banyumas, sedang 'matun' tanaman padi. Motor Yupiter-Z diparkir di tepi jalan, tepian sawah. Dirasa aman, karena kelihatan. Tapi, ketika sedang menyiangi rumput, motor dibawa orang. Dia melihat, motor itu dikendarai orang, tapi tak mampu ngejar. Kacaulah hidup si petani. Kredit-pun belum lunas.

Dosa, selalu ber-efek buruk, bagi hidup. Bukan pertama-tama, nilainya barang, namun kekacauan hidup, yang diakibatkan-nya.

Selamat, tidak kacau.
Wasalam:
-agt agung pypm-


Rabu, Juli 01, 2009

Akbar

Di sebuah rumah, sebelum jembatan Sungai Krasak, Magelang, yang pernah terbakar, ada peringatan lalu-lintas, tulisannya begini, 'Ngebut......?, Bandem.........!'.

Allahu Akbar, artinya Gusti Allah maha besar. Hampir semua orang tahu itu. Dan tak ada persoalan. Semua orang meng-amin-i. Semua orang mem-percaya-i. Dan malah banyak orang pula, setiap kali meng-ucap-kannya. Sebagai syahadat kepercayaan, juga sebagai pula kalimat-kalimat sebutan & pujian. Sesuatu yang biasa. Malah menjadi bagian hidup sehari-hari.

Namun bagi seorang pria di dekat kawasan Kebasen, yang berprofesi sebagai tukang ojeg, arti 'maha besar', sudah bergeser maknanya. Dalam sebuah dialognya, dia mengatakan:
+ 'Sakniki, 'allahu akbar' tegese empun beda...!'
- 'Lho, bedane napa pak ?.
+ 'Gemiyen ta, enggih, tegese ngaten. Ning sakniki tegese, 'Ayo pada mbandhem omahe uwong.......!'
- 'Lho.....?'
+ 'Lha nyatane ngaten kok, nika angger siaran berita ten TV, onten tiyang sing teriak-teriak 'allahu akbar', bubar mbengok ngaten, terus mbandhemi uwong, mbandemi omah, pripun jaaaallllll.....?!'. Jaman kula reyin ngode teng Jakarta, nggih meruhi bab ngaten. Nyebut asmane Gusti Allah, ning bar niku mbandemi kaca toko-toko.'

Siapakah yang masuk akhirat.Siapakah yang masuk sorga.
Kitab Suci mengatakan, ' Mengapa kamu berseru kepadaKu, Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan ?'.
Dus, yang berkenan di hadapan Tuhan, (1). Yang berseru 'Tuhan'. (2). Yang 'melakukan yang dikatakan Tuhan'.
Iman tanpa perbuatan, mati.
Ora et Labora.
'Kebersihan, adalah sebagian dari iman'.
Jarkoni. Ya, ujar. Ya, nglakoni.
............

Mari kita, masuk akhirat. Masuk sorga. Ketemu Bapa.

Syalom. Wilujeng wengi. Rahayu.
Wasalam:
-agt agung pypm-