Senin, Mei 11, 2009

Lelaki Dasar atau Dasar-lelaki

Seorang perempuan bernama Imah. Ketika gadis muda, mrantasi sepak-terjangnya. Pintar ping-pong, pintar voly. Aktivis masyarakat, Rt-Rw. Lulusan SMEA, pendidikan ter-akhirnya. Badannya, tinggi semampai, wajah menarik untuk dilirik. Tapi, itu dulu. Dulu begitu.

Kini, perempuan itu agak berantakan hidupnya. Gara-gara. Gara-gara laki-laki. Ada dua lelaki, yang mengukir memori membekas di batinnya. Memang, Ketika gadis. wajahnya cantik-menarik, maka banyak pemuda menaksirnya. Berangkat dari kepiawaiannya main volly, kenallah dia dengan seorang pemuda, yang juga pemain bola volly. Suatu saatpun, mereka menikah. Sampai akhirnya punya anak, malah sampai tiga orang.

Guna menghidupi keluarga, Si pemuda bekerja mencari nafkah. Apapun dijalani, sampai harus pergi ke kota besar. Profesi tukang batu dilakoninya, karena sebagai pemuda desa, memang pintar memasang batu-bata, meniru bapaknya. Sampailah juga di kota besar Metropolitan.
Ketika itu sedang dibangun Mall Taman Anggrek. Dia jadi pekerja, tiap hari memanjat bangunan bertingkat-tingkat.

Apes. Ketika tengah bekerja di calon gedhung tingkat tinggi, dia terpeleset. Jatuh menghujam ke tanah. Tewas seketika. Jasadnya dikirim ke desa asal, tak jauh dari kota Purbalingga. Buyarlah kebahagiaan Si Imah, sebagai ibu rumah tangga. Terpaksa status sebagai janda, disandangnya.

Atas kecelakaan itu, istrinya--Si Imah--, dapat santunan. Ada bantuan dana untuk pemakaman, dan sekedar uang untuk kelangsungan hidup sementara waktu. Ditabungnya uang itu oleh istri setia.

Perempuan yang kini janda ini, rajin berdoa, rajin peng-kaji-an. Suatu saat, dalam sebuah acara peng-kaji-an agama, kenallah dengan seorang pemuda. Pandang bertemu pandang, gayung bersambut air. Jadilah kedua insan itu menikah. Berangkat dari acara agama, disahkan dng upacara agama, di KUA.

Uang santunan yang masih utuh, diputarnya, untuk menambah income keluarga. Dibuatnya, sebuah warung kecil. Juga dibelinya sebuah sepedamotor, dimaksudkan untuk meng-ojek. Pengemudi-nya adalah suami-barunya. Dua, tiga-minggu skenario indah ini jalan mulus. Tiap hari ada dana masuk dari usaha ojek & warungnya.

Tapi apa yang kemudian terjadi. Suami barunya ternyata main mata. Main mata dengan perempuan lain. Tak tanggung-tanggung, sampai wanita-idaman-lain itu hamil. Jadi kasus sedesa. Ribut. Pak Lurah sampai harus turun tangan. Ini kasus yang pertama. Tak terlalu lama terselesaikan.

Tapik rupanya, kasus berlanjut kasus. Yang selanjutnya, suami barunya tak kapok bermain mata. Juga dengan wanita tapi yang kini berbeda. Ribut lagi, ribut lagi. Juga sampai hamil, dan lantas punya anak. Dus, jadi satu pria, tiga wanita.

Meski demikian, si pria, suami kedua Imah, masih pulang ke rumah. Namun kini tak pernah setor uang hasil ngojek-nya. Uang bablas tak tahu rimbanya. Tak hanya itu, jika pulang terus mau pergi, selalu ambil rokok Jizamzu sebungkus. Padahal itu barang dagangan. Lama-lama, warung kecil-pun bangkrut.

Perkembangan, rupanya tak membaik, melainkan kian buruk. Suaminya mulai jarang pulang. Itupun lalu juga tak soal. Yang jadi soal adalah, motor-ojek yang terbeli dengan uang santunan suami pertama, juga tak pulang. Dicari kesana-kemari, akhirnya ketemu, namun sudah dijual.
Hanya satu kata yang bisa diucapkan, 'Keterlaluan, dasar laki-laki..........!'

Saking mumetnya, perempuan bernama Imah rupanya jadi tak tahan, dia ber-usaha jualan jamu. Jualannya tak di pasar modern, atau pasar tradisional, melain kan di pasar hewan. Pembelinya, para penjual & pembeli hewan. Juga para blantik sapi dan wedus. Dan katanya, dari jualan jamu itu, pendapatannya tak seberapa. Dan katanya pula, dia lalu nyambi, nyandang status, sebagai 'Wanita Jalang'. 'Luweeeeeeeeh......', katanya.

Group Band musik, Koes Plus, pernah menyanyikan lagu berjudul, 'Liku-liku laki-laki'.
Jika para ibu berkumpul, pernah terdengar kalimat, 'Dasarrrrr laki-laki !'
Kota Purwokerto, Slogan-nya, 'Kota Satria'. Lelaki ideal, --menurut wayang-- adalah yang berwatak S a t r i a.

Menjadi laki-laki, adalah sebuah pilihan,
Mau jadi 'Lelaki dasar', atau 'Dasarrrrrrr laki-laki'.
Selanjutnya terserah...................

Selamat menjadi laki-laki.
Syalom. Wilujeng wengi. Rahayu.
Wasalam:
-agt agung pypm-

Injil & Novel

Dalam sebuah iklan di koran, tertulis 'Berlian adalah abadi'. Tak mengherankan, karena berlian adalah semacam batu. Batu itu barang, kebetulan batu itu indah, berkilauan sedap dipandang mata, maka bernilai. Malah nilainya amat tinggi. Maka harganyapun bisa amat tinggi. Tapi, ya itu, sekali batu, tetap batu. Tak bisa omong, tak bisa gerak. Sifatnya, statis.

Siswa-siswi SMP & SMA diberi pelajaran tentang sastra Indonesia. Juga kadang sastra dunia. Dalam dunia kesusastraan, kita kenal bentuk novel. Novel, adalah tulisan model karangan, tentang kehidupan manusia. Novel yang terkenal, sekitar jaman kemerdekaan, berjudul 'Siti Nurbaja'. Ada pula, yang berjudul 'Cinta Tak Sampai', 'Layar Terkembang'.

Era tahun tujuhpuluhan, ada Novel cukup terkenal. Malah meledak sampai di-film-kan. Judulnya, "Cintaku Di Kampus Biru'. Belum lama juga, Novel laris ber-level internasional muncul di pasaran, berjudul "Hary Potterr". Yang tak kalah hebohnya, belum lama muncul film, yang dibuat berdasarkan novel, 'Laskar Pelangi'. Malah di Purwokerto & Cilacap, anak-anak SD diajak oleh gurunya, untuk nonton film itu di bioskop. Tak tanggung-tanggung, mereka dari jauh men-charter bis-telung-prapatan. Berbondong-bondong pergi ke bioskop.

Asyik memang, menikmati novel-novel itu. Sampai-sampai, anak-anakpun sekarang tertarik untuk menulis, mengarang, membuat novel. Apalagi, yang bagus bisa dijual. Bisa untuk nambah income-ekonomi.

Sastra novel, ada kekuatannya, dan ada pula titik-titik lemahnya. Salah satu titik lemah, adalah, 'sekali baca, selesailah sudah'. Orang sesudah tahu kisahnya, lalu kurang tertarik untuk membacanya lagi. Memang, novel bersifat temporal, kontekstual. Juga aktual.

Novel, adalah sebuah model tulisan, di antara banyak model yang lain( Puisi, cerpen, cer-ber, legenda, gurindam, dsb-dsb). Dan itu-itu semua, ditulis oleh manusia, dibaca oleh manusia juga. Nilai kemanfaatannya, dirasakan oleh manusia. Bisa bersifat menghibur, bisa bersifat penguat dalam menjalani hidup ini. Bisa bersifat 'sesaat', bisa pula secara temporal, agak lama populernya.

Di antara buah-karya, produk berbagai model-model tulisan terkenal di dunia ini, ada satu model-tulisan, yang tak pernah kuno. Tak pernah usang. Tak pernah ketinggalan jaman. Orang tak pernah bosan membacanya, lebih dari sekali. Malah, ribuan kalipun model tulisan itu selalu berbicara. Tulisan yang tak pernah usang itu, adalah 'Injil'. Kitab-suci.

Setiap kali Injil, Kitab-suci dibaca, selalu saja ada makna-makna. Malah Injil, Kitab-suci, tak lagi sebagai bacaan, melainkan malah jadi santapan. Sebagai santapan rohani. Inilah kekuatan, nilai plus Injil, jika dibanding tulisan-tulisan yang lain. Selalu relevan, selalu aktual.

Mengapa bisa demikian. Karena Injil adalah tulisan 'Firman'. Tak sembarang firman, melainkan Firman Allah. Firman itu menjelma dalam sebuah pribadi, yakni Pribadi Yesus-Kristus. Hidup Yesus Kristus itulah, yang dituliskan dalam sebuah Injil.

Dan Injil Yohanes, hari ini
meng-ungkap-kan demikian: "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kamu akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan Dia. Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku(Yoh 14:23-24).

Dan mengapa juga, Injil tak pernah usang, ketinggalan jaman, karena dalam Injil, Allah sendiri berkarya, lewat Roh-Nya. Dituliskan,
' Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu (Yoh 14:25-26)',

Injil, bisa dipandang sebagai sebuah model tulisan. Tulisan sebuah makna kehidupan. Makna itu, adalah kesaksian iman. Di sana, Allah sendiri ber-karya.

Maka meski sudah hampir 2000 tahun, usia tulisan itu, tak pernah usang. Selalu ada makna, yang bisa kita timba.

Selamat menikmati 'Tulisan- abadi'. Tak pernah usang sepanjang jaman.

Syalom. Wilujeng wengi. Rahayu.
Wasalam:

-
agt agung pypm-